Di Era Teknologi Canggih, Mengapa Teror terhadap Aktivis Masih Sulit Diungkap?



Serangan terhadap aktivisme hak asasi manusia kembali menggemparkan ruang publik. Kali ini menimpa Andrie Yunus , seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Ia dilaporkan diserang menggunakan air keras oleh orang tak dikenal setelah menyelesaikan rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Podcast tersebut membahas isu-isu yang sensitif dan penting bagi demokrasi bertema remiliterisasi .

 

Peristiwa ini tentu saja bukan sekedar tindak kriminal biasa. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Keselamatan para pembela hak asasi manusia dan ruang kebebasan sipil di Indonesia . Penyerangan dengan menggunakan air keras terhadap seorang aktivis jelas merupakan tindakan keji yang harus dikecam keras oleh seluruh elemen masyarakat. Tindakan semacam ini tidak seharusnya terjadi di negeri yang menjunjung tinggi hukum, demokrasi, dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Sulit untuk menafikan kemungkinan bahwa serangan tersebut berkaitan dengan aktivitas kritis Andrie Yunus sebagai pengurus KontraS. Selama ini, KontraS dikenal aktif menyuarakan kritik terhadap berbagai isu pelanggaran HAM, kekerasan negara, hingga kebijakan yang dinilai berpotensi memperkuat militerisme dalam kehidupan sipil.

 

Dalam situasi seperti ini, aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab besar untuk bertindak cepat dan transparan. Penyelidikan yang serius dan profesional tidak hanya penting untuk menemukan pelaku, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara dan institusi hukum.

 

Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa menutupi rasa pesimis. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa banyak kasus teror terhadap individu atau kelompok yang kritis terhadap kekuasaan kerap berakhir tanpa kejelasan. Salah satu contoh yang masih segar dalam ingatan masyarakat adalah teror pengiriman kepala babi ke kantor redaksi Tempo pada Maret 2025. Peristiwa itu sempat menimbulkan kehebohan nasional, namun hingga setahun berlalu, hasil penyelidikannya belum memberikan jawaban yang memuaskan bagi masyarakat.

 

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar. Seberapa sulit sebenarnya bagi aparat kepolisian untuk mengungkap pelaku di balik aksi teror semacam ini? Di tengah era teknologi canggih, sistem pengawasan digital, serta berbagai perangkat investigasi modern, seharusnya kejahatan fisik seperti ini bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diungkapkan.

 


Ataukah memang ada kekuatan lain yang bermain di belakang layar?

 

Pertanyaan ini tentu saja tidak boleh dibiarkan menggantung. Negara hukum tidak boleh kalah oleh rasa takut, tekanan kekuasaan, ataupun kepentingan tertentu. Ketika serangan terhadap aktivisme dibiarkan tanpa penyelesaian yang jelas, yang terancam bukan hanya keselamatan individu, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri .

 

Serangan terhadap Andrie Yunus harus menjadi momentum bagi aparat penegak hukum untuk membuktikan bahwa negara hadir melindungi warganya terutama mereka yang bersuara kritis demi kepentingan publik. Tanpa keberanian untuk mengungkap kebenaran, demokrasi hanya akan menjadi slogan, bukan kenyataan.

 

Di tengah zaman yang disebut semakin modern, terbuka, dan transparan, seharusnya tidak ada lagi ruang bagi teror untuk membungkam suara keadilan. Justru di era inilah yang dituntut negara untuk menunjukkan bahwa hukum benar-benar berdiri di atas segala kepentingan. (H.A.S)

"Anda dapat mendukung agar blog ini tetap berjalan! Klik tombol Trakteer di bawah untuk memberikan dukungan dan membuat konten-konten inspiratif tetap hadir."

Mulai website Anda sekarang bersama Hostinger — cepat, aman, dan terjangkau. 

0 Komentar