Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang penuh akses informasi, hiburan, dan teknologi yang semakin canggih. Internet membuka peluang besar bagi pendidikan, kreativitas, dan pengembangan diri. Namun dibalik manfaat tersebut, terdapat ancaman serius yang mulai mengintai generasi muda Indonesia, salah satunya adalah maraknya paparan judi online pada anak-anak.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan
bahwa sekitar 200 ribu anak di Indonesia telah terpapar judi online, termasuk
sekitar 80 ribu anak yang bahkan masih berusia di bawah 10 tahun. Angka ini
tentu saja bukan sekedar statistik biasa. Di baliknya ada ribuan keluarga,
anak-anak, dan masa depan generasi bangsa yang sedang menghadapi ancaman serius
di ruang digital.
Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia , Kawiyan ,
menilai bahwa peran orang tua sangat strategis dalam mengatasi permasalahan
tersebut. Namun permasalahan besarnya adalah masih banyak orang tua yang belum
memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping dan pengawas anak dalam konteks
digital. Inilah tantangan zaman hari ini teknologi berkembang jauh lebih cepat
dibandingkan kesiapan banyak keluarga dalam mendampingi anak. (
Fenomena judi online pada anak sebenarnya sering tidak
dimulai secara langsung. Banyak anak awalnya hanya memainkan permainan yang
terlihat sederhana dan menyenangkan. Bahkan beberapa permainan tampak memiliki
sisi positif karena melatih konsentrasi, strategi, dan ketelitian. Anak merasa
tertantang untuk menyelesaikan level demi level. Mereka menikmati sensasi
kemenangan kecil, hadiah virtual, poin, atau bonus tertentu.
Namun tanpa disadari, pola ini perlahan membentuk
kemandirian psikologis. Anak mulai terbiasa mengejar sensasi menang dan
kepuasan instan. Ketika permainan mulai dikaitkan dengan top up, hadiah uang,
atau keuntungan tertentu, anak semakin terdorong untuk mengulanginya. Dari sana penanaman bibit perilaku adiktif dapat tumbuh.
Yang perlu dipahami, anak-anak belum memiliki kemampuan
matang untuk memfilter mana kebiasaan yang baik dan mana yang berbahaya bagi
dirinya. Mereka masih berada dalam tahap pembentukan karakter. Apa yang
dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan akan
membentuk karakter. Dan karakter yang terbentuk sejak kecil sering kali terbawa
hingga masa dewasa.
Oleh karena itu, perlindungan anak di era digital tidak bisa
hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Ini membutuhkan gerakan bersama.
Orang tua memiliki tanggung jawab utama di rumah, tidak
hanya menyediakan fasilitas digital tetapi juga hadir sebagai pendamping yang
memahami dunia anak-anaknya. Guru di sekolah berperan membangun literasi
digital dan pendidikan karakter. Pemuka agama memiliki tanggung jawab moral
yang menanamkan nilai pengendalian diri, kerja keras, dan kehidupan yang sehat.
Lingkungan masyarakat juga harus ikut menciptakan ruang sosial yang aman bagi
pertumbuhan anak.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab besar secara makro
melalui regulasi, pengawasan platform digital, mengambil akses media sosial
bagi anak, hingga pemberantasan jaringan judi online. Langkah-langkah regulasi
yang sedang dilakukan pemerintah saat ini patut diapresiasi sebagai bentuk
keseriusan negara melindungi generasi muda. Namun regulasi saja tidak cukup
jika masyarakat tidak ikut bergerak bersama.
Organisasi kepemudaan memiliki posisi yang sangat strategis.
Organisasi kepemudaan dapat menjadi jembatan antara
keluarga, lembaga keagamaan, sekolah, masyarakat, dan negara dalam membangun
generasi muda yang sehat secara moral, mental, dan digital. Melalui edukasi
literasi digital, kampanye internet sehat, pendampingan remaja, kegiatan
kreatif, olahraga, pelayanan sosial, hingga pelatihan karakter, organisasi
kepemudaan dapat menghadirkan ruang positif yang membantu anak-anak bertumbuh
secara sehat di tengah derasnya arus teknologi.
Anak muda hari ini tidak cukup hanya dibekali kecerdasan
akademik. Mereka juga harus dipersiapkan memiliki ketahanan moral, kedewasaan
mental, serta kemampuan mengendalikan diri di tengah dunia digital yang semakin
kompleks.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter generasi yang tumbuh di dalamnya. Menjaga anak-anak di era digital sesungguhnya bukan hanya tugas pengawasan, melainkan bentuk nyata kasih, kepedulian, dan tanggung jawab bersama demi masa depan Indonesia yang lebih sehat, berkualitas dan berpengharapan. (H.A.S)

0 Komentar