Di tengah hiruk-pikuk Pasar Gelugur, di antara tumpukan pisang yang tersusun rapi, ada sosok sederhana yang menyimpan cerita luar biasa. Ia adalah Bung Tepu, kader GAMKI Labuhanbatu yang telah menapaki proses pengkaderan selama kurang lebih tujuh tahun. Bukan sekadar hadir, Bung Tepu adalah contoh nyata bagaimana kesetiaan dalam proses mampu melahirkan karya dan dampak.
Sejak masa kepemimpinan Bung Tohap, ia sudah bergabung dan
terus setia memberi waktu, tenaga, dan pikirannya untuk bertumbuh bersama
GAMKI. Baginya, organisasi bukan hanya ruang berkumpul, tetapi tempat menempa
diri dan memperluas makna pelayanan.
Kesehariannya jauh dari kata mewah. Bersama sang istri
tercinta, Bung Tepu menjalani usaha sederhana: berniaga pisang di Pasar
Gelugur. Dari melayani pembeli eceran hingga partai besar, mereka jalani dengan
tekun dan penuh syukur. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan sebuah
kecintaan yang kemudian mengubah arah hidupnya yaitu memancing.
Awalnya, memancing hanyalah hiburan, sekadar pelepas penat
di sela kesibukan. Tetapi seperti banyak kisah besar lainnya, sesuatu yang
dimulai dari “iseng” justru menemukan panggilan sejatinya. Bung Tepu mulai
tertarik mendalami dunia memancing lebih serius. Ia tak hanya ingin mendapatkan
ikan, tetapi juga memahami “ilmu” di baliknya terutama soal umpan.
Dari situlah perjalanan baru dimulai. Dengan ketekunan dan
rasa ingin tahu yang tinggi, ia mulai meracik umpan sendiri. Berkali-kali
gagal, diuji berbagai kondisi air dan cuaca, hingga akhirnya menemukan formula
yang tepat. Lahirlah HSF – Umpan Ikan Mas Andalan, sebuah produk karya anak
daerah, hasil dari proses panjang, kesabaran, dan keteguhan.
Perjalanan tentu tidak mulus. Penolakan pasar, dinamika
penjualan, hingga keraguan dari berbagai pihak pernah ia hadapi. Namun Bung
Tepu memilih untuk tetap berjalan. Ia percaya bahwa proses tidak pernah
mengkhianati hasil.
Kini, HSF semakin dikenal. Tidak hanya digunakan oleh
pemancing harian, tetapi juga telah terbukti di berbagai kejuaraan memancing
yang diikutinya baik secara individu maupun tim. Prestasi demi prestasi menjadi
bukti bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.
Menariknya, di tengah berkembangnya usaha baru ini, Bung
Tepu tidak meninggalkan usaha lama yang telah membesarkan keluarganya. Ia tetap
setia mengelola usaha pisang bersama sang istri. Baginya, keberhasilan bukan
tentang meninggalkan yang lama, tetapi tentang menumbuhkan yang baru tanpa
melupakan akar.
Lebih dari itu, langkah Bung Tepu juga mulai memberi dampak
bagi orang lain. Ia telah membuka peluang kerja dengan mengajak seorang pemuda
untuk bergabung dalam timnya membantu pemasaran dan aktivitas event. Sebuah
langkah kecil, tetapi bermakna besar dalam membangun kemandirian bersama.
Kisah Bung Tepu adalah pengingat bagi kita semua, khususnya kader GAMKI bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan melahirkan buah yang nyata.
Bahwa hobi, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi jalan
berkat.
Dan bahwa kader sejati bukan hanya aktif di organisasi,
tetapi juga mampu menghadirkan nilai dan manfaat di tengah masyarakat.
Dari pasar sederhana hingga kolam perlombaan, dari hobi
menjadi karya.
Bung Tepu telah membuktikan satu hal penting. “Kader yang bertumbuh adalah kader yang terus bergerak, berkarya, dan berdampak.”
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk tidak takut memulai, tidak lelah berproses, dan tidak ragu mengubah potensi menjadi karya nyata. (H.A.S)

0 Komentar