Meskipun Pemilu 2029 masih lima tahun lagi, arah perubahan sistem pemilihan kepala daerah sudah mulai terlihat sejak sekarang. Wacana yang awalnya dilontarkan secara sporadis oleh tokoh-tokoh partai politik termasuk Presiden Prabowo Subianto kini mengkristal menjadi sikap resmi partai, ditandai dengan keputusan Rapimnas Partai Golkar pada 20 Desember lalu. Usulannya tegas, pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan ke DPRD, tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat.
Wacana ini segera mendapat dukungan dari partai-partai besar
lain seperti Gerindra, PAN, NasDem, dan PKB. Dengan total kekuatan lebih dari
64 persen kursi DPR, koalisi ini secara matematis sangat mungkin menggolkan
perubahan melalui revisi UU Pemilu yang diperkirakan mulai dibahas pada 2026.
Di sisi lain, PDIP dan Partai Demokrat menolak keras, sementara PKS masih
mengambil posisi abu-abu.
Alasan Klasik. Mahal dan Korup
Argumen utama kubu pendukung pilkada lewat DPRD hampir
seragam, pemilihan langsung terlalu mahal dan menjadi sumber korupsi kepala
daerah. Biaya “mahar” ke partai, kampanye, hingga praktik politik uang dianggap
membebani calon kepala daerah dan pada akhirnya “dibalas” melalui
penyalahgunaan kewenangan saat menjabat. Ditambah lagi, negara harus
mengalokasikan anggaran besar dari APBN untuk penyelenggaraan pilkada langsung.
Namun pertanyaan mendasarnya apakah masalah utamanya
benar-benar terletak pada sistem pemilihan langsung, atau pada perilaku aktor
politik yang menjalankannya?
Menghapus hak rakyat untuk memilih langsung pemimpinnya
bukanlah solusi substantif atas mahalnya politik. Itu hanya memindahkan biaya
dari arena terbuka ke ruang tertutup. Politik uang tidak serta-merta hilang
ketika pemilihan dilakukan oleh DPRD. Yang berubah hanya objeknya, dari rakyat
ke segelintir elite. Alih-alih amplop ke pemilih, yang terjadi bisa jadi
“amplop” ke anggota dewan dalam skala yang justru lebih besar dan lebih sulit
diawasi.
Klaim Pancasila yang Perlu Dikritisi
Pendukung pilkada lewat DPRD kerap mengutip sila ke-4
Pancasila “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan”. Namun tafsir ini cenderung selektif. Demokrasi
perwakilan tidak otomatis berarti meniadakan partisipasi langsung rakyat,
terlebih dalam memilih pemimpin eksekutif daerah.
Dalam konteks negara demokrasi modern, pemilihan langsung
justru merupakan bentuk paling konkret dari kedaulatan rakyat. Musyawarah dan
perwakilan seharusnya memperkuat kehendak rakyat, bukan menggantikannya
sepenuhnya. Ketika kepala daerah dipilih DPRD, pertanyaan krusialnya adalah seberapa
representatif DPRD itu sendiri terhadap suara rakyat?
Krisis Representasi DPRD
Inilah titik paling problematik. Salah satu tujuan utama
pilkada langsung adalah menghadirkan pemimpin daerah yang memiliki legitimasi
langsung dari rakyat, bukan semata hasil kompromi elite partai. Realitasnya,
kehadiran DPRD hari ini sering kali tidak benar-benar dirasakan masyarakat.
Tidak sedikit anggota legislatif baik pusat maupun daerah yang memaknai
jabatannya layaknya pekerjaan kantor. Datang, rapat, pulang, menerima gaji dan
tunjangan. Demikian seterusnya sampai akhir periode.
Fungsi sebagai wakil rakyat yang terus hadir bersama
masyarakat, menyerap aspirasi, dan memperjuangkan solusi atas persoalan
ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan keamanan, kerap tereduksi. Bahkan dalam
banyak kasus, loyalitas anggota dewan lebih condong kepada kepentingan partai
politik dibanding rakyat yang memilihnya, terutama ketika kedua kepentingan itu
berhadap-hadapan.
Ironisnya, problem politik uang yang dituding sebagai
penyakit pilkada langsung juga marak terjadi dalam pemilihan legislatif.
Fenomena “serangan fajar” menunjukkan bahwa banyak caleg terpilih bukan karena
gagasan dan rekam jejak, melainkan karena uang. Jika demikian, apa jaminannya
DPRD yang lahir dari proses seperti itu mampu memilih kepala daerah yang
benar-benar berkualitas?
Akar Masalah. Partai Politik
Jika “mahar politik” menjadi persoalan, maka yang harus
dibenahi adalah tata kelola partai politik, bukan mencabut hak pilih rakyat.
Selama partai masih menjadikan pencalonan sebagai komoditas, korupsi akan terus
menemukan jalannya apa pun sistem pemilihannya.
Begitu pula dengan praktik politik uang di tingkat pemilih.
Fenomena amplop bukan semata kesalahan rakyat, melainkan cerminan calon yang
tidak memiliki kualitas, rekam jejak, kedekatan, dan solusi nyata bagi
masyarakat. Kandidat yang bekerja nyata dan hadir secara konsisten di tengah
rakyat terbukti mampu menang tanpa mengandalkan uang secara masif.
Bahkan, ketika kepercayaan publik terhadap partai terus
menurun, rakyat mulai melirik jalur calon independen sebagai alternatif. Ini
sinyal keras bahwa problemnya bukan pada rakyat, melainkan pada institusi
politik.
Alternatif yang Perlu Dipikirkan
Alih-alih mengembalikan pilkada ke DPRD, diskursus justru
perlu diarahkan pada inovasi demokrasi. Misalnya, tetap mempertahankan
pemilihan langsung kepala daerah, tetapi melakukan reformasi serius terhadap
pendanaan politik, transparansi kampanye, dan penguatan penegakan hukum.
Bahkan gagasan radikal patut dipertimbangkan, rakyat memilih
langsung kepala daerah, sementara untuk legislatif cukup memilih partai
politik. Dengan demikian, partai bertanggung jawab penuh atas kualitas wakilnya
di DPRD, dan kepala daerah tetap memiliki legitimasi langsung dari rakyat.
Pemilihan kepala daerah secara langsung memang mahal,
melelahkan, dan penuh risiko. Namun demokrasi tidak pernah murah. Biaya itu
adalah harga untuk memastikan pemimpin daerah benar-benar merupakan
representasi kehendak rakyat, bukan sekadar hasil transaksi elite.
Mengembalikan pilkada ke DPRD bukanlah langkah maju,
melainkan kemunduran demokrasi yang dibungkus narasi efisiensi. Jika tujuannya
memberantas korupsi dan memperbaiki kualitas kepemimpinan, maka yang harus
dibenahi adalah partai politik dan moral elite, bukan mencabut hak dasar rakyat
untuk memilih pemimpinnya sendiri.
Karena pada akhirnya, kedaulatan rakyat bukan soal efisiensi anggaran, melainkan soal siapa yang berhak menentukan masa depan daerahnya. (H.A.S)
"Anda dapat mendukung agar blog ini tetap berjalan! Klik tombol Trakteer di bawah untuk memberikan dukungan dan membuat konten-konten inspiratif tetap hadir."
Mulai website Anda sekarang bersama Hostinger — cepat, aman, dan terjangkau.

0 Komentar