Optimisme Perekonomian Prabowo dan Tanggung Jawab Generasi Muda


Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme yang kuat terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Prabowo menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang kokoh dan mampu menghadapi berbagai gejolak global. Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan didukung oleh indikator makroekonomi yang relatif stabil dan fundamental ekonomi yang terjaga.

Optimisme Presiden Prabowo Subianto bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh signifikan hingga “membuat dunia kaget” patut dibaca lebih dari sekedar pernyataan percaya diri di forum global. Di tengah perekonomian dunia, klaim tersebut justru memiliki pijakan yang kuat. Inflasi Indonesia terkendali di kisaran 2 persen, defisit APBN tetap di bawah 3 persen, dan pertumbuhan ekonomi konsisten di sekitar 5 persen selama satu dekade terakhir. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tidak rapuh.

 

Pengakuan lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut Indonesia sebagai titik terang di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang memperkuat narasi tersebut. Artinya, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi memiliki peluang untuk melaju lebih cepat dibandingkan banyak negara lain. Namun, optimisme makroekonomi ini akan menjadi sia-sia jika tidak dipengaruhi oleh kekuatan sosial dan kesadaran kolektif di dalam negeri.

 

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menjadi modal besar untuk pertumbuhan. Di sisi lain, tanpa arah dan kesadaran nasional, bonus ini malah bisa berubah menjadi beban. Generasi muda sebagai kelompok terbesar dalam struktur penduduk saat ini tidak hanya bisa menjadi penonton atau konsumen pasif dalam sistem ekonomi global.

 

Persoalan mendasar muncul, seberapa besar rasa memiliki generasi muda terhadap bangsanya sendiri? Nasionalisme hari ini tidak cukup diukur dari seremoni atau retorika, tetapi dari pilihan ekonomi yang dibuat setiap hari. Memprioritaskan produk dalam negeri dari sandang, pangan, hingga papan adalah bentuk konkret keberpihakan pada ekonomi nasional.

 

Ketika generasi muda lebih bangga menggunakan produk impor tanpa mempertimbangkan produk lokal, maka pertumbuhan ekonomi yang digadang-gadang hanya akan menguntungkan pihak luar. Sebaliknya, jika konsumsi dalam negeri diarahkan untuk memperkuat industri nasional, maka daya saing produk lokal akan meningkat, lapangan kerja bertambah, dan kemandirian ekonomi menjadi nyata.

 

Optimisme Presiden Prabowo seharusnya dibaca sebagai tantangan, bukan sekadar harapan. Negara telah menjaga stabilitas dan membuka peluang. Kini pertanyaannya sederhana apakah generasi mudanya siap mengambil peran? Jika penjelasannya ya, maka keyakinan bahwa Indonesia akan mengejutkan dunia bukanlah mimpi, melainkan proses yang sedang berjalan. (H.A.S)

"Anda dapat mendukung agar blog ini tetap berjalan! Klik tombol Trakteer di bawah untuk memberikan dukungan dan membuat konten-konten inspiratif tetap hadir."

Mulai website Anda sekarang bersama Hostinger — cepat, aman, dan terjangkau. 

0 Komentar