Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan legenda sepak bola dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, di Davos, Swiss, di sela-sela penyelenggaraan World Economic Forum (WEF) pekan ini. Sekilas, pertemuan dengan peraih Ballon d'Or 1998 itu bisa dibilang sebagai momen santai di tengah agenda padat kenegaraan. Namun jika dicermati lebih dalam, pertemuan ini mengandung makna simbolik dan strategi yang tidak sederhana.
Zinedine Zidane bukan figur sembarangan. Ia adalah ikon
global, sukses sebagai pemain kelas dunia sekaligus pelatih klub elite Eropa.
Nama Zidane identik dengan disiplin, kepemimpinan, prestasi, dan
profesionalisme tingkat tinggi. Bertemunya Presiden Prabowo dengan sosok
seperti Zidane di forum ekonomi dunia seakan menjadi pesan halus bahwa
Indonesia tengah membangun narasi optimisme baru. Indonesia percaya diri tampil
di panggung global, tidak hanya melalui angka-angka ekonomi, tetapi juga
melalui soft power.
Dalam forum yang sama, Presiden Prabowo menegaskan
optimismenya terhadap ketahanan dan masa depan perekonomian Indonesia. Inflasi
yang terjaga, stabilitas fiskal, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi
fondasi pesan tersebut. Pertemuan dengan Zidane, sosok yang dipercaya dan
dihormati lintas generasi dan lintas negara, memperkuat pesan itu dengan
pendekatan yang lebih dekat kepada generasi muda.
Sepak bola, dalam konteks ini, tidak lagi sekedar olahraga.
Ia telah menjadi instrumen diplomasi modern dan simbol kemajuan suatu bangsa.
Keberhasilan sebuah negara mengelola sepak bola kerap dipandang sebagai
cerminan stabilitas nasional, tata kelola yang baik, serta keseriusan membangun
sumber daya manusia. Tidak jarang, kemajuan olahraga khususnya sepak bola ikut
membentuk persepsi positif investor terhadap iklim sosial dan politik suatu
negara.
Jika pertemuan Prabowo dan Zidane menemukan ritme dan
kesinambungan, bukan tidak mungkin dampaknya akan melampaui simbolisme.
Kepercayaan generasi muda Indonesia terhadap arah kebijakan pemerintah semakin
menguat, terutama bila sepak bola dan industri olahraga benar-benar ditempatkan
sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Pada titik ini, pertemuan tersebut seakan menegaskan bahwa
Presiden Prabowo menempatkan kepentingan generasi muda sebagai elemen penting
dalam Asta Cita dan arah besar “Prabowonomics”. Pembangunan tidak hanya diukur
dari infrastruktur fisik dan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari
bagaimana negara memberi ruang harapan, kebanggaan, dan inspirasi bagi anak
muda.
Dari Davos, pesan itu dikirimkan ke dunia. Indonesia tidak
hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga tentang kepercayaan diri, stabilitas,
dan masa depan. Dan sepak bola dengan segala daya tarik globalnya menjadi salah
satu bahasa universal untuk menyampaikan pesan tersebut. Semoga saja. (H.A.S)
"Anda dapat mendukung agar blog ini tetap berjalan! Klik tombol Trakteer di bawah untuk memberikan dukungan dan membuat konten-konten inspiratif tetap hadir."
Mulai website Anda sekarang bersama Hostinger — cepat, aman, dan terjangkau.

0 Komentar