Sebuah komunitas tidak akan bertahan hanya karena memiliki sejarah. Ia akan tetap hidup apabila setiap generasi memiliki kesadaran untuk mengenal, menjaga, dan meneruskan warisan yang diterimanya.
Sejarah dunia memberikan banyak contoh tentang bagaimana
sebuah identitas dipertahankan lintas zaman. Salah satunya adalah suku Han di
Tiongkok, kelompok etnis terbesar di Tiongkok yang identitasnya tetap hidup dan
menjadi bagian penting dari perjalanan panjang peradaban Tiongkok. Identitas
Han tidak sekadar menunjuk pada asal-usul, tetapi juga menjadi bagian dari
ingatan sejarah, kebudayaan, bahasa, tradisi, dan rasa memiliki yang diwariskan
dari generasi ke generasi.
Yang menarik bukan hanya bagaimana sebuah kelompok besar
dapat bertahan selama berabad-abad, tetapi bagaimana setiap generasi mengambil
bagian dalam meneruskan identitas tersebut.
Di sinilah kita belajar bahwa mempertahankan sebuah entitas
keturunan bukanlah pekerjaan satu generasi.
Ia adalah estafet sejarah.
Generasi sebelumnya meletakkan fondasi. Generasi sekarang
menjaga dan mengembangkannya. Sementara generasi berikutnya dipersiapkan agar
mampu meneruskannya dengan cara yang sesuai dengan zamannya.
Hal yang sama dapat kita renungkan dalam kehidupan orang
Batak.
Identitas Batak yang begitu kaya salah satunya diwujudkan
melalui keberadaan marga. Marga bukan sekadar nama keluarga yang melekat di
belakang nama seseorang. Di dalamnya terdapat sejarah, hubungan kekerabatan,
asal-usul, nilai, tanggung jawab, dan ikatan sosial yang menghubungkan
seseorang dengan generasi sebelum dan sesudahnya.
Salah satu marga yang memiliki perjalanan panjang dalam
menjaga persatuan dan kekeluargaan adalah marga Sinaga.
Kesadaran untuk membangun sebuah wadah persatuan bahkan
telah muncul sejak tahun 1940, jauh sebelum Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya. Dari perjalanan sejarah tersebut kemudian berkembang sebuah
organisasi yang dikenal luas sebagai PPTSB.
Keberadaan PPTSB hingga hari ini tentu bukan hasil kerja
satu atau dua orang. Ada perjalanan panjang yang dibangun oleh para pendahulu
dengan semangat persaudaraan, gotong royong, pengorbanan, dan kecintaan
terhadap pomparan Toga Sinaga.
Falsafah manat mardongan tubu, somba marhula-hula, elek
marboru menjadi salah satu nilai penting yang menjaga hubungan dalam kehidupan
kekerabatan.
Karena itu, ketika kita melihat PPTSB hari ini sebagai
sebuah organisasi yang semakin terstruktur, matang, dan berkembang hingga ke
berbagai tingkatan, sesungguhnya kita sedang melihat buah dari perjuangan
banyak generasi.
Kita patut bertanya kepada diri sendiri.
Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Sebab setiap generasi memiliki tanggung jawab sejarahnya
sendiri.
Generasi terdahulu telah membangun fondasi. Mereka
menghadapi keterbatasan zaman dengan segala persoalannya. Mereka
mengorganisasi, mengumpulkan, menyatukan, dan menjaga persaudaraan agar tetap
hidup.
Kini estafet itu berada di tangan kita.
Pelantikan Pengurus Cabang PPTSB Labuhanbatu Periode
2026–2030 pada 20 Agustus 2026 bukan hanya pergantian kepengurusan. Ia
seharusnya dimaknai sebagai peristiwa penyerahan amanah dari satu generasi
kepada generasi berikutnya.
Ada tanggung jawab besar di balik sebuah jabatan.
Pengurus yang menerima mandat tidak hanya menerima struktur
organisasi, tetapi juga menerima sejarah, harapan, dan kepercayaan dari
keluarga besar PPTSB.
Karena itu, kepemimpinan seharusnya tidak dimaknai sebagai
kesempatan untuk mendapatkan posisi, melainkan sebagai kesempatan untuk
memberikan pengabdian.
Para pendahulu memiliki pengalaman. Mereka telah melewati
berbagai dinamika organisasi dan kehidupan. Maka pengalaman tersebut harus
ditempatkan sebagai kekayaan yang sangat berharga.
Generasi sekarang tidak harus mengulangi seluruh cara yang
dilakukan generasi sebelumnya. Tetapi generasi sekarang harus memahami nilai
dan alasan mengapa sesuatu dibangun.
Di sisi lain, generasi muda juga memiliki sesuatu yang
sangat penting, energi, kreativitas, keberanian mencoba hal baru, serta
kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Karena itu, regenerasi tidak boleh berarti menggantikan yang
lama dengan yang baru.
Regenerasi adalah mempertemukan pengalaman dengan energi baru.
Para senior memberikan akar.
Generasi sekarang menjaga batang.
Generasi muda menumbuhkan cabang dan daun baru.
Jika akar kuat tetapi tidak ada pertumbuhan, pohon akan
berhenti berkembang. Sebaliknya, jika pertumbuhan tidak memiliki akar yang
kuat, pohon akan mudah tumbang.
Demikian pula sebuah organisasi.
PPTSB membutuhkan pengalaman para pendahulu sekaligus
keberanian generasi berikutnya untuk beradaptasi dengan perubahan.
Kita hidup dalam zaman yang berbeda. Teknologi mengubah cara
manusia berkomunikasi. Media sosial mengubah cara informasi bergerak. Pola
kehidupan keluarga berubah. Generasi muda memiliki kebutuhan dan cara pandang
yang semakin beragam.
Organisasi yang ingin tetap relevan harus mampu membaca
perubahan tersebut tanpa kehilangan jati dirinya.
Berubah cara, bukan berubah nilai.
Kita boleh menggunakan teknologi baru, tetapi jangan
kehilangan persaudaraan.
Kita boleh membangun sistem organisasi yang lebih modern,
tetapi jangan kehilangan semangat gotong royong.
Kita boleh memiliki generasi kepemimpinan baru, tetapi
jangan memutus komunikasi dengan para pendahulu.
Justru di situlah kekuatan sebuah parsadaan.
Generasi tua memberikan kebijaksanaan.
Generasi tengah memberikan pengalaman dan kemampuan mengelola.
Generasi muda memberikan energi dan inovasi.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Sebab tujuan akhirnya bukan siapa yang menjadi ketua, siapa
yang menjadi pengurus, atau siapa yang paling lama berada dalam organisasi.
Tujuan akhirnya adalah agar persaudaraan tetap hidup dan
identitas tetap diwariskan.
Mungkin suatu hari nanti, ketika kita sudah tidak lagi
berada dalam struktur kepengurusan, generasi berikutnya akan melihat apa yang
kita kerjakan hari ini.
Mereka mungkin tidak mengingat seluruh nama kita.
Mereka mungkin tidak mengingat semua kegiatan yang pernah
kita lakukan.
Tetapi semoga mereka dapat merasakan bahwa pernah ada
generasi yang bekerja dengan tulus agar organisasi ini tetap hidup dan
persaudaraan ini tetap terjaga.
Itulah makna sesungguhnya dari regenerasi.
Bukan sekadar menyerahkan jabatan.
Bukan sekadar mengganti struktur.
Tetapi menyerahkan nilai, menjaga sejarah, dan menyiapkan masa depan.
Kita menerima warisan dari para pendahulu bukan untuk
sekadar kita nikmati.
Kita menerimanya untuk kita rawat, kita kembangkan, lalu
kita serahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
Karena sesungguhnya, kita bukan pemilik sejarah ini. Kita hanyalah penjaga sementara dari sebuah warisan yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri.
Dan ketika suatu hari estafet itu kembali berpindah tangan,
semoga generasi setelah kita dapat berkata.
“Mereka telah menjaga apa yang diwariskan kepada mereka, dan
mereka meninggalkan sesuatu yang lebih baik untuk kami.”
Horas PPTSB.
Horas Pomparan Toga Sinaga.
Parhatian Nasora Monggal, Parninggala Sibola Tali. (H.A.S)
"Anda dapat mendukung agar blog ini tetap berjalan! Klik tombol Trakteer di bawah untuk memberikan dukungan dan membuat konten-konten inspiratif tetap hadir."
Mulai website Anda sekarang bersama Hostinger — cepat, aman, dan terjangkau.
.jpeg)
0 Komentar